Wednesday, November 24, 2010

Cerpen

Cerpen Lingkungan
Kekeringan
Tiga bulan lalu semestinya musim hujan sudah tiba. Alih-alih hujan turun, cuaca menjadi bertambah panas dari hari ke hari.. Saluran irigasi semakin menyusut airnya, bahkan sudah dua minggu belakangan hampir kering. Giman yang tidak memiliki sawah seluas petani-petani lain harus pandai-pandai mengatur strategi agar sawahnya tetap teraliri air. Saat ini, air menjadi barang mewah bagi para petani Desa Brojol. Tinggal sebulan lagi masa panen tiba. Namun, justru kecemasan yang datang melanda. Akankah ia gagal panen untuk ketiga kalinya tahun ini?. Tidak, itu sangat menyakitkan bagi seorang petani, apalagi petani miskin seperti Giman.
Dari kejauhan terlihat Mbah Simo sibuk mengatur aliran air di saluran irigasi. “Saya minta bagian air sedikit, Mbah!. Sudah dua hari sawah saya kering!”. Spontan Giman berteriak melihat sosok Mbah Simo. “Biar penuh dulu sawahku. Memangnya sawahmu saja yang kering!”. Lelaki tua itu terlihat gusar.
“Lebih baik segera bayar hutang berasmu yang kemarin. Tahun kemarin hutangmu sudah ku anggap lunas karena aku kasihan sama anakmu yang mau masuk sekolah. Tapi, sekarang jangan enak-enakkan. Kau harus bayar, mengerti!”, lanjut Mbah Simo dengan nada kesal.
“Bagaimana saya bisa bayar, Mbah, kalau saya tidak bisa panen gara-gara sawah saya kekeringan?!”, sahut Giman tak kalah kesal.
“Lho…yo ojo nyolot, Kowe!. Sawahku itu luas. Kalau kekeringan, aku ruginya juga besar. Tidak bisa dibandingkan dengan sawahmu sing sak iprit kuwi”. Giman segera sadar. Ia harus menahan diri. Ia tidak ingin terlibat masalah dengan Mbah Simo. Bisa-bisa, bunga hutangnya dinaikkan dua kali lipat. Sawah Mbah Simo memang berhektar-hektar. Ia tahu, tidaklah cukup mengalirkan air seharian untuk memenuhi sawah-sawah Mbah Simo. Ia harus bersabar sebentar untuk mendapatkan air.
Dari balik gubuknya, Giman melihat Mbah Simo mulai menjauhi saluran irigasi. Ia segera beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju saluran irigasi setelah memastikan bahwa Mbah Simo benar-benar pergi. Giman beraksi, ia menyumbat aliran air yang menuju sawah Mbah Simo, kemudian ia mengalirkan air ke sawahnya. Ah, akhirnya dapat air juga, batinnya. Sudah dua hari sawahnya tak teraliri air. Keadaan ini akan bertahan setidaknya hingga sore tiba. Karena, pada sore hari biasanya Mbah simo akan mengecek ulang aliran irigasinya.
***
“Pakde, Pakde!. Cepat ke sawah, Pakde. Sawah Mbah Simo dibakar orang!”. Mitro datang tergopoh-gopoh menghampiri Giman yang sedang mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk kayu bakar. “Apa??!. Oalah opo maneh iki?”. Sontak Giman berlari menuju sawah yang tak jauh dari tempat ia mencari ranting kering menyusul Mitro yang telah menghilang di balik pepohonan.
Giman terkejut bukan kepalang. Puluhan orang berkumpul mengelilingi sawah Mbah Simo dengan obor yang menyala-nyala di tangan mereka. Wajah-wajah mereka menunjukkan sikap tak bersahabat. Api berkobar menggila oleh angin senja. Secepat kilat Si Jago Merah menyambar batang-batang padi menguning di hampir separo bagian sawah milik Mbah Simo.
“ Biar tahu rasa dia. Seenaknya saja memonopoli air. Dia pikir hanya sawahnya saja yang butuh air!”, kutuk salah seorang dari mereka.
“Mentang-mentang orang kaya, suka semena-mena!!”, kutuk yang lainnya.
“Dasar pengecut. Dimana Simo?. Kalau berani suruh dia lawan orang satu kampung!!” suara lain menyahut geram.
Mata Giman menyapu kerumunaan orang-orang. Ia mengenali sosok-sosok tubuh itu. Mereka adalah para tetangga Giman. Dikun, Parjo, Sarjono, Lukito. Hampir orang satu kampung!. Mereka kalap dan terus mengumpat-umpat. Mereka melemparkan obor dengan membabi buta ke tumpukan batang padi kering di tepi sawah. Kembali api berkobar semakin besar, melahap habis padi-padi yang hampir panen.
“Tunggu!. Jangan…!. Jangan sawahku!”, reflek Giman berlari mendekat tidak dapat mencegah merambatnya api dari obor yang terlempar. Api menjalar merenggut satu per satu batang padi di sawah Giman.
“Oalah, Gusti!. Kumohon matikan apinya. Itu sawahku..!!!”. Tak ada yang peduli. Tak ada yang mendengar. Riuh redam umpatan orang-orang itu menelan teriakan Giman. Ia terduduk lesu. Ia ingin menangis seperti bayi, jika tidak teringat akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang harus tegar menghadapi apapun.
Warga desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak bulan oktober ini mulai kesulitan air bersih. Embung atau kolam besar yang penuh dengan air , kini menjadi kering karena teriknya sinar matahari dan juga seringnya diambil warga untuk keperluan sehari-hari . Akibatnya kolam yang dahulunya dapat dibuat untuk berenang kini kering dan meninggalkan air yang berwarna hijau dan kotor. Meskipun demikian kolam ini masih digunakan warga untuk keperluan mandi dan cuci. Hal ini dilakukan oleh warga karena tidak adanya tempat lain untuk mandi maupun cuci.
Begitu pula air untuk minum dan masak persediaan merekapun sudah habis sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari warga membeli air pada penjaja air yang setiap hari memasok kebutuhan warga. Setiap jrigen yang isinya sekitar 50 liter , warga harus mengeluarkan uang Rp 1.500,- -Rp 2,000 . Rata-rata kebutuhan setiap KK perharinya 3 – 3 jrigen itupun hanya untuk masak dan mencuci . Kebutuhan air untuk mandi masih mengandalkan air dari kolam yang masih berair meskipun kotor keadaannya.
“ habis bagaimana , kalau mandi pakai air bersih dan harus membeli ya jelas memberatkan warga , untuk minum, masak dan mencuci saja harus keluar uang paling sedikit Rp 2.000,- . Bila ditambah untuk mandi ya hampir Rp 10.000,’, jadi mandinya ya pakai air kolam ini kotor sedikit tak apa “ ujar Shofirin ( 30 ) warga desa Kedungkarang.
Kolam di bangun
Sementara itu Muhdi ( 45 ) Kepala Desa Kedungkarang yang ditemui , mangatakan air bersih bagi warganya jika musim kemarau memang barang yang mahal harganya, oleh karena itu dia setiap kesempatan mengusulkan pada pemerintah agar desanya mendapatkan kucuran air dari PDAM Demak, Namun demikian karena keterbatasan dana fihak PDAM berlum memungkinkan untuk penyambungan pipa air minum ke desanya. Melihat kenyataan itulah untuk waktu yang akan datang fihaknya mohon pada pemerintah ‘kolam besar yang ada didesanya agar direhab untuk dijadikan lumbung air bersih bagi warga desanya.
Kolam tersebut diharapkan ditata dengan baik , dikeruk lumpurnya , dibersihkan serta diberi pagar sekelilingnya agar warga yang mandi maupun mengambil air tidak langsung masuk ke dalam kolam , namun akan dibangun tempat khusus untuk mandi dan mencuci. Dengan penataan yang baik itulah diharapkan kwalitas kebersihan air bersih akan terjamin.
“ Proposal sudah kami buat . mudah-mudahan langsung mendapat respon dari pemerintah untuk ditindaklanjuti agar kebutuhan air bersih warga kami lebih terjamin kebersihannya dan lingkungan pun tidak kumuh dan kotor “ harap Muhdi . (Muin ) Pada zaman sekarang, segala kebutuhan bisa dipenuhi dengan begitu mudah dan cepat. Fasilitas-fasilitas di desa sudah bisa dijangkau dengan mudah. Salah satu contohnya adalah pembagunan ruko-ruko. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu lagi pergi ke kota untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pembangunan ruko-ruko di desa sayangnya tidak memperhatikan lingkungan. Mereka membangun ruko asal berdiri dengan menebangi pohon-pohon untuk mendirikan bangunan.. Mereka tidak mengindahkan kesimbangan lingkungan yang berupa saluran air dan penghijauan.
Dengan banyaknya bangunan di desa-desa menjadikan desa-desa itu tidak lagi tampak ijo royo-royo, namun menjadi ijo ruko-ruko. Hal yang tampak dari perubahan ini adalah adanya perubahan hutan menjadi perumahan, area persawahan yang disulap menjadi rentetan rumah-rumah, dan pinggiran jalan tidak lagi pohon-pohon melainkan papan-papan iklan.
Adanya perubahan ini tentu saja akan menimbulkan risiko. Apabila daerah tersebut adalah memiliki simpanan air, maka akan dimungkinkan pada waktu-waktu tertentu akan terjadi kekeringan. Begitu juga sebaliknya pada musim hujan akan mengakibatkan banjir karena tidak ada pepohonan yang menampung air. Selain dua akibat itu, dimungkinkan akan adanya sampah yang menumpuk. Misalnya adalah plastik yang tidak bisa diurai oleh bakteri selama ratusan tahun.
Tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan lingkungan. Dua hal yang bisa kita lakukan adalah menyelamatkan lingkungan yang sudah terlanjur didirikan bangunan dan lingkungan yang belum didirikan bangunan.
Beberapa hal dapat kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan yang sudah dibangun. Pertama, membenahi saluran air yang berupa gorong-gorong untuk mengantisipasi saat hujan tiba. Kedua, memberi sedikit ruang untuk pepohonan. Jika tidak memungkinkan ditanami pepohonan, minimal ada bunga-bunga di dalam pot.
Apabila ada lingkungan yang belum dibangun, kita bisa melakukan hal-hal untuk bangunan yang ramah lingkungan sebagai berikut. Pertama, merencanakan sedikit ruang untuk tempat tanaman dan jika memungkinkan adalah tempat untuk pepohonan. Hal yang paling penting adalah merencakan saluran air.
Peranan pemerintah tentu tak bisa terlepas dari masalah ini. Pemerintah harus membuat undang-undang mengenai pembangunan yang ramah lingkungan. Apabila ada yang melanggar, maka pemerintah harus menindaknya secara tegas.
Sebagai siswa kita pun bisa menjaga lingkungan. Hal terdekat yang bisakita lakukan adalah gemar menanam pohon, menanam bunga di pot-pot sekolahan, menghemat listrik, dsb. Menghemat listrik bisa menyelamatkan lingkungan. Secara tidak langsung kita sudah mengurangi pemakaian batu bara sebagai bahan listrik yang tidak bisa diperbarui.
Pentingnya kerjasama yang baik antarsemua pihak dalam menjaga lingkungan. Para pengusaha memperhatikan pembangunan yang ramah lingkungan, pemerintah melakukan pengawasan, dan masyarakat turut serta dalam menjaga lingkungan. Denganb demikian, kita bisa mengembalikan desa kita yang hijau ruko-ruko menjadi desa yang ijo royo-royo.
 Senja membias temaram. Gerimis tuntas di dahan pakis. Serombongan sriti terbang rendah dari langit utara. mencicit ribut, lantas hinggap beramai-ramai di pohon asam jawa di belakang rumah.
Nini menutup jendela. Seutas senyum meretas bibir, menyirat rasa lega di paras senjanya, persis seorang ibu mendapati anak-anaknya kembali pulang usai pengembaraan sepanjang siang.
“Burung-burung itu salah satu kearifan alam yang tak pernah kering untuk diteladani. Mereka bertebaran di siang hari untuk mencari rezeki Tuhan. Di malam hari mereka menghening cipta, tenggelam dalam pemujaan pada-Nya. Begitulah seharusnya Muslim menjalani kehidupan, senantiasa berkaca pada konsep tawazun, neraca keseimbangan...” Nini menerawang, sementara aku merasa berkewajiban melongo dengan harapan suatu saat kelak memahami bahasanya yang terlalu ‘tua’.
Kini Nini melempar sebatang ampas kopi ke perapian, lantas menuju bale-bale tempatku melongo. Sebentar lagi harmoni kwartet dimulai. Ya, aroma arabika, harum tanah basah, irama jangkrik, dan dongeng Nini adalah sinergi favorit yang senantiasa menghadirkan damai di sekujur jiwaku, memberi ruh pada setiap kata yang mengalir penuh ajaran. Bahkan aku seolah-olah bisa menyentuh gaun gadis hijau toska yang menjadi tokoh utama dongeng sang Nini.
Gadis itu cantik seperti tanah tempat ia tinggal. Terik menyisakan rona merah di pipinya. Ia bergaun hijau toska milik ibunya dulu. Gaun itu hanya diwariskan pada gadis kecil yang berwawasan lingkungan. Topinya lebar terbuat dari anyaman pandan dengan hiasan bunga-bunga liar.
Saat matahari berada di atas kepala dia berlari kecil menuruni bukit. Serombongan domba mengikutinya dengan suka cita. Dia bertemu dengan kawan-kawannya; gembala kerbau yang meliuk dengan seruling, gadis-gadis kecil sepertinya, dan gembala bebek yang berjingkrak-jingkrak ribut, tanda bebeknya bertelur dalam penggembalaan. Ibu bilang dia boleh memiliki telur itu sebagai hadiah.
Mereka segera merencanakan pesta. Gadis hijau toska membongkar ‘harta karunnya’ berupa 5 buah mangga udang yang ditimbun 3 hari lalu di tempat rahasia. Gadis-gadis lain mencari wuni, mede, dan jamur. Gembala kerbau mengeluarkan belalang kayu dari sakunya, dan gembala bebek menyumbangkan telurnya. Perapian dibuat dari kayu dan ranting. Sungguh pesta yang sempurna. Aroma pepes jamur dan mede terbawa angin hingga jauh ke balik bukit, bersinergi dengan wangi anggrek bulan yang memeluk pohon-pohon perawan. Jalinan umbinya adalah hunian yang nyaman bagi anak-anak burung. Sementara air tanah terlindung akar bahar nan kokoh.
Hmm… ya, hidangan yang lezat, perut yang kenyang, dan tiupan angin yang nyaman melenakan anak-anak. Mereka tertidur di tengah padang dan tanpa disadari ternak mereka menuju huma. Terdengar suara keras pemilik huma mendendangkan ultimatum. Syairnya yang universal berlaku untuk gembala ceroboh di mana pun berada.
“Letho... letho... gebuki kayu mbako, upahi mentholoro, sing angon hola... holo...!”
Wajah anak-anak pias. Mereka ketakutan dan lari sembunyi. Dari tempat persembunyian mereka melihat ternak-ternak mengembik kesakitan dilempari tanah keras. Anak-anak itu hampir menangis.
Ah, betapa Muhammad kecil tak pernah lalai menjaga ternaknya. Kini mereka tahu, Tuhan menetapkan sebagian besar profesi para calon rasul adalah penggembala. Rupanya Tuhan ingin mendidik kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab sebagai bekal memimpin kaumnya kelak.
Ya, anak-anak menyesal. Ternyata menggembala tidak boleh lalai. Menjelang sore anak-anak membawa ternaknya turun ke sungai dan menggiringnya ke kandang. Tak satu pun berani bercerita pada ibu.
Kini senja telah turun, asap ubi jalar membumbung di atap rumah, saatnya menyalakan obor dan pergi ke surau. Pak Imam telah menanti untuk mengajarkan ayat-ayat kauniyah, bahwa urusan lingkungan hidup adalah bagian dari keberagamaan.
Bagaimana Al-Qur’an bercerita tentang penciptaan bumi dalam enam masa, pertemuan dua arus dengan suhu berbeda yang keduanya dipisahkan penampang. Bagaimana Tuhan menciptakan ozon dan gas-gas pelindung bumi dalam takaran yang pas. Tentang yakut dan marjan, buah tin dan zaitun. Dan betapa Al-Qur’an juga sudah mengingatkan tentang tamatnya dunia yang ditandai dengan ketidakseimbangan ekosistem, keluarnya reptil raksasa dari perut bumi, matahari digulung, bintang berjatuhan, binatang-binatang liar dikumpulkan, laut dipanaskan...
Aku menahan napas seperti anak-anak di surau itu. Sementara malam di luar kian merenta. Nini memberi tahuku bahwa semesta senantiasa bertasbih, baik daun-daun, embun, atau burung-burung di pohon asam jawa di belakang rumah.
***
Nini menyelesaikan rakaat akhir subuhnya dan mulai mengusikku. ”Cepat kau shalat subuh, lalu ambil wijen untuk sarapan burung-burung.”
Dingin seolah-olah mencapai ubun-ubun ketika kakiku menyentuh batu ceper di bawah pancuran. Aku heran, tulang tua Nini bisa kuat menahan dingin ini. Bahkan di sepertiga malam terakhir tadi kupastikan Nini berwudhu di sini.
”Berapa umurmu sekarang, Audi?”
”Tujuh tahun, Ni.”
”Kau lebih jangkung dari Nini dulu. Gaunmu hampir mencapai lutut. Ganti dengan yang ini saja.”
Aku menatap gaun hijau toska itu dengan tampang setengah tak percaya. Ada motif bunga-bunga pala di lingkar leher, lengan, dan pinggang. Saat kusentuh, aku merasakan sensasi halus sekaligus kuat. Dadaku hampir meledak oleh takjub. Apakah ini artinya aku beruntung menjadi gadis hijau toska berikutnya? Inikah gaun legendaris itu?
”Tapi kau harus janji untuk tidak memakai deodoran yang dapat membolongi ozon, harus rajin menanam pohon, tidak buang sampah sembarangan, tidak membunuh binatang tanpa alasan yang benar, tidak menyakiti atau mempermainkan binatang, menolak sabung ayam, karapan sapi, topeng monyet, dan mengutuk iklan obat nyamuk yang kodoknya terlalu ceking...” Aku meringis, menyetujui kalimat ’pembaiatan’ yang menurutku sedikit aneh.
Kupakai gaun itu dengan semangat. Rasanya aku baru dilantik menjadi anggota Green Peace. Pundakku serasa memikul misi mahapenting. Aku kini, si gadis hijau toska penyelamat lingkungan hidup. Yeah!
Cepat kusambar semangkuk wijen dan berlari ke halaman. Matahari hampir muncul menepis sisa-sisa embun. Burung-burung sudah bangun sedari tadi. Gelatik, sriti, merpati juga srigunting. Mereka mengelilingiku berebut wijen. Sekilas mereka tampak jinak.
Tiba-tiba muncul niatku untuk iseng. Aku berbaring di rumput dengan kaki bertabur wijen. Aku tak bergerak untuk beberapa saat. Burung-burung bereaksi, mereka mendekat perlahan, memastikan aku benar-benar tak bergerak. Setelah yakin, mereka mulai mematuki kakiku. Makin lama makin banyak. Rasanya geli, tapi demi sempurnanya misi kutahan saja. Setelah mereka terlena, whuaaa.... aku bangun dengan sangat mengejutkan. Untuk mendukung peran kukenakan topeng semar yang sempat kusembunyikan di rumpun anthurium. Kini aku menandak-nandak. Burung-burung memekik ribut, gugup, dan saling tabrak. Tampang mereka lucu sekali, aku sampai tertawa bergulingan.
”Berhenti menakuti burung, gadis badung! Gadis hijau toska tak pernah mempermainkan binatang!” Jemari basah beraroma lerak memijit hidungku keras-keras. Aku meringis kesakitan, tapi yang lebih membuatku takut adalah jika Nini mengambil gaun itu kembali berikut predikatnya.
”Ampun, Ni. Aku janji tidak begitu lagi...”
Nini melepaskan jemarinya setelah yakin aku kapok.
***
Siang di beranda rumah. Mulutku sibuk mengunyah onde-onde, sambil menunggui Nini yang sibuk memaket burung hantu.
”Burung hantu predator yang hebat, Nini akan menghadiahkan burung-burung ini untuk sahabat-sahabat petani Nini.”
Diam-diam aku memuji Nini. Dia memiliki pengetahuan dan kearifan yang indah tentang alam. Ibu guru bilang ‘kearifan naturalis’. Setiap waktu bersama Nini, jiwaku semakin kaya dengan ajaran-ajaran. Seperti siang ini, di sela-sela kunyahan kapur sirihnya Nini memberitahuku, bahwa orang-orang zaman dahulu jauh lebih memiliki kearifan alam daripada orang-orang modern. Mereka berusaha mengendalikan ketamakan dengan menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan dengan kelangsungan hidup lingkungan.
Suku Ammatoa hanya mengambil buah dan umbi tanpa boleh memotong dahan atau ranting. Jika butuh ranting mereka memungut yang sudah jatuh. Orang Jawa pantang memotong pupus daun pisang karena akan berakibat fatal bagi pohon itu. Orang Minang hanya memotong pohon yang benar-benar tua, karena selain tidak lagi produktif, jika pohon tumbang akan menimpa pohon-pohon kecil di sekitarnya.
Mereka juga jenius dengan melakukan pembangunan berwawasan lingkungan. Syair mereka yang terkenal berbunyi, ‘Tanah miring ditanami tebu, tanah tunggang ditanami bambu, tanah gurun dibuat ladang, tanah rawa dibuat sawah, tanah munggu untuk kuburan kaum, tanah berlonang untuk kolam ikan, tanah lembah untuk kubangan kerbau, tanah keras untuk perumahan’.
Rumah Gadang mereka juga mencerminkan kebaikan hati, atap rumah yang tinggi menjadi tempat hidup binatang bebas seperti burung pipit, tawon madu, dan kumbang, mereka boleh tinggal di sana dan tidak diusir.
Tuhan meletakkan petunjuk pada bintang-bintang dan mereka melihat langit untuk membacanya. Mereka tandai, dan menjadi waktu untuk bercocok tanam dan memanen. Kita perlu menjaga alam, karena ayat-ayat Tuhan ada di sana, diliput misteri dan hikmah tiada tara.
Kau tahu, Audi, lebah adalah binatang yang manis yang menjadi pengejawantahan orang beriman, selalu makan dari makanan yang baik dan senantiasa menghasilkan manfaat.
Semut selalu ramah pada saudaranya dan senang bergotong royong. Sedang ketam berjalan miring tapi ingin anaknya berjalan lurus. Rupanya Tuhan menyindir ibu-ibu yang menjemput anak-anaknya pulang dari TPA sambil bergosip di sela waktu-waktu menunggu atau para koruptor yang ramai-ramai memasukkan anaknya ke pesantren.
Kata-kata Nini tak sepenuhnya terpahami otak kanak-kanakku, tapi aku membingkainya di hatiku, sambil sekali lagi berjanji akan memahaminya kelak.
***
Suatu senja di Pulau Galang. Aku melepas burung-burung yang bermigrasi ke utara. Angin bulan Juni menyentuh ujung sanubariku, membawa segala kenanganku tentang Nini. Aku merindukannya. Ini tahun kedua aku ke Pulau Galang tanpa Nini. Dia pergi dua tahun lalu, darahnya yang tak tercemar MSG membuatnya mampu bertahan hingga 112 tahun.
Kerinduanku akan Nini sempurna dengan kehadiran seseorang yang memberitahuku bahwa burung-burung telah menginspirasi manusia sejak ratusan tahun silam. Pedagang Gujarat dan Parsi berlayar merentas samudera mencari rezeki Tuhan sambil menyebarkan agama Muhammad. Maka terbentuklah peradaban baru yang sarat cahaya. Mereka seperti burung-burung yang menelan biji dari tanah selatan, lalu terbang ke utara dan mengeluarkan biji itu di sana. Maka bertambahlah koleksi alam utara. Demikianlah keragaman hayati terbentuk. Sungguh Tuhan adalah pengatur terbaik.
Seseorang itu bernama Pemberani. Kisahnya membawaku pada simfoni kwartet yang terjalin saat kebersamaanku dengan Nini. Kearifannya yang mirip Nini membuatku memutuskan untuk menerima pinangannya. Maka hari ini aku menikah di usiaku yang ke-19. Nini berpesan ada sesuatu yang ditinggalkan gadis hijau toska di bawah pohon mangga udang untukku, sebagai kado pernikahan.
Dan hari ini pula kutelusuri halaman pondok Nini. Hampir tak ada yang berubah. Masih ada pohon pakis, beragam spesies lili dan rumpun-rumpun anthurium. Pancuran bambu dan pohon asam jawa. Hanya saja aku tak mendengar nyanyian burung. Hanya ada beberapa gelatik mematuki ujung gaun pengantinku. Aku hampir menangis. Nini pasti terluka jika tahu akhir-akhir ini burung-burung selalu membawa kabar buruk. Bahwa manusia menyakiti alam sampai perut bumi. Tiap menit hutan hilang enam kali luas lapangan bola, teluk dan telaga tercemar logam berat, generasi terancam autisme, gagal tumbuh dan mutasi sel. Sungai berwarna-warni dan beraroma busuk, kutub mencair, laut meluap, negeri ini jadi punya empat musim, hujan, banjir, kemarau dan kekeringan. Global warming menjadi isu paling serius.
Kearifan lupa singgah di hati manusia, karena semesta tempat Tuhan meletakkan pelajaran-pelajaran telah dirusak, hingga nyaris tak ada lagi yang dapat dibaca manusia. Entah apa yang terjadi, tapi manusia berlomba menghabiskan semuanya hari ini, hingga tak ada lagi yang tersisa esok. Apa yang dikhawatirkan malaikat hampir terjadi. Bagaimana bisa para perusak itu menjadi khalifah yang harusnya memakmurkan bumi?
Dan burung-burung itu, Ni... adalah mahluk manis paling malang. Senandung mereka pupus didera H5N1.
Tak terasa langkahku menyentuh akar pohon mangga udang yang teramat renta hingga nyaris roboh. Aku merendah dan mulai menggali, sementara jiwaku dipenuhi rasa haru, sedih, sekaligus ingin tahu.
Sekian menit menggali, tanganku menyentuh sesuatu yang ternyata sebuah kotak kayu hitam. Aku berharap ini bukan kitab Jumanji yang melarikanku dari keputusasaan menuju petualangan yang mengerikan. Apapun yang disimpan kotak ini, aku berharap menemukan semangat.
Tanganku gemetar membukanya. Dan ini kali kedua aku merasa takjub secara total. Perasaanku sama persis seperti ketika menyentuh gaun hijau toska dulu. Berpuluh-puluh botol kecil tersusun rapi, berisi aneka biji-bijian dari berbagai kelas dan spesies. Ini seperti dongeng! Adakah salah satunya adalah biji pohon ajaib yang bisa membawaku ke langit dan membawa pulang telur angsa emas?
Selembar kertas terselip di antara botol, berisi tulisan tangan Nini.
Sayangku Audi,
Ini warisanku untukmu. Seluruhnya adalah biji pohon ajaib yang akan membawamu membuka sebuah rahasia langit dalam titah Sang Gusti; bahwa mengapa Allah memilih manusia untuk jadi khalifah dan memakmurkan bumi.
Allah meletakkan kearifan di hati manusia, jauh di sudut nuraninya. Tapi Allah Mahakreatif. Barangsiapa yang senantiasa membersihkan hati, maka nuraninya akan membias segenap inderanya, memberi pencerahan hingga dia dapat membaca setiap tanda dan pelajaran yang diletakkan Tuhan di alam semesta.Dan pencerahan itu akan membawanya pada kesadaran hakiki tentang tugas penciptaanya di bumiMaka dari itu, Audi..Terbanglah seperti burung-burung. Sebarkan biji-biji ini ke segenap penjuru bumi Allah. Jadikan bumi kembali hijau, racun-racun diserap stomata. Air terjaga di bawah akar yang kokoh. Burung kembali bernyanyi, kearifan membunuh ketamakan. Pemikiran akan kehidupan masa depan mengalahkan keserakahan hari ini. Generasi lebih peduli, langit kembali biru, laut kembali tenang, bumi menjadi hunian yang nyaman bagi para makhluk, dan malaikat menyetujui keputusan Tuhan yang telah menunjuk manusia sebagai khalifah sebab manusia memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih untuk memakmurkan bumi.
Mataku membasah embun. Serombongan gelatik kembali mematuki ujung gaunku. Jauh di sudut hatiku terpatri sebuah janji pengantin, bahwa aku dan Pemberani akan terbang menyemaikan biji-biji kearifan ini ke segenap penjuru bumi, agar semesta kembali hijau dan burung-burung kembali bernyanyi.
“Tiadalah bagi seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman yang kemudian dimakan burung, manusia atau binatang, kecuali baginya termasuk sedekah.” (Al-Hadist).***
Musim kemarau seperti saat ini, sebagian wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan selalu kesulitan air. Jumlah wilayah yang menderita kekeringan dari tahun ketahun terlihat semakin meningkat dan meluas. Hal ini diakibatkan tidak hanya oleh rusaknya lingkungan di daerah tangkapan air, akan tetapi juga diakibatkan oleh pesatnya pembangunan fisik serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam penggunaan air tanpa diikuti dengan upaya menjaga dan melestarikan sumber daya air.
Di Pulau Jawa yang menjadi langganan kekeringan adalah daerah-daerah sepanjang pantura pulau jawa. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan sulitnya mendapatkan air untuk irigasi persawahan namun yang lebih penting juga menyebabkan kesulitan bagi penduduk dalam mendapatkan air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari.
Pengamatan dari Badan Meteorologi dan Geofisika untuk tahun 2003 ini, terdapat 30 kabupaten yang mengalami kesulitan air, dan yang tergolong parah adalah di Pulau Jawa yaitu di 13 Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, 12 di Jawa Tengah, 3 di Jawa Barat, dan 2 di DI Yogyakarta. Di samping 2 kabupaten di Provinsi Banten yang perlu diwaspadai. Sedangkan menurut data Potdes BPS tahun 2000, desa yang rawan air bersih meliputi desa-desa di Kabupaten Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Garut, Sukabumi, Grobogan, Demak, Blora, Rembang, Brebes, Wonogiri dan Cilacap.
Menindaklanjuti informasi tersebut, untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan kesulitan air bersih, maka Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, segera melakukan upaya-upaya penanganan dengan menugaskan Tim Survei secara serentak pada bulan Agustus 2003 yang lalu, untuk melakukan inventarisasi kondisi serta kebutuhan penanganan yang tepat untuk mengatasi dan menanggulangi dampak kekeringan yang menimpa daerah-daerah tersebut.
Survei diarahkan pada daerah-daerah, hasil keputusan rapat Koordinasi Khusus tentang penanganan dampak kekeringan 2003, masing-masing untuk Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta, yang meliputi Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Wonogiri, Grobogan, Blora, Rembang, Demak, Kulon Progo dan Gunung Kidul.
KONDISI UMUM AKIBAT KEKERINGAN
Prioritas inventarisasi diarahkan pada kebutuhan air bersih untuk kepentingan hidup sehari-hari bagi penduduk. Dari hasil survei diperoleh gambaran kondisi tingkat penyediaan air bersih sebagai berikut:
UPAYA PENANGGULANGAN
Dari kondisi yang demikian di beberapa daerah, maka Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah telah menetapkan kebijakan dalam penanggulangan dampak kekeringan dan kesulitan air bersih melalui program jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Program Jangka Pendek
§ Memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang masih tersedia sebagai air baku untuk air bersih;
§ Menambah instalasi yang dapat difungsikan dengan cepat seperti pembuatan paket-paket unit pengolahan air bersih berkapasitas kecil (5-10 l/det) khusus untuk daerah yang masih memiliki sumber air baku;
§ Bagi daerah rawan air bersih termasuk yang sumur dangkalnya juga mengalami kekeringan, dibantu dengan suplai air bersih melalui tangki yang airnya diambil dari instalasi pengolahan air (IPA) terdekat yang masih berfungsi;
§ Untuk daerah yang memiliki potensi air tanah sedang (kedalaman 25-40 m) sesuai peta potensi air tanah, dibangun sumur-sumur pompa tangan dalam.
Program Jangka Menengah
§
§ Kampanye hemat air, gerakan hemat air, perlindungan sumber air, mengimbau rasa peduli dan kesetiakawanan terhadap masyarakat yang kesulitan mendapatkan air minum.
§ Penyebarluasan teknik-teknik pencarian dan penjernihan air sederhana.
§ Khusus untuk daerah rawan air :
- Memanfaatkan sumber air yang ada secara lebih efisien dan efektif;
- Meningkatkan kehandalan sumber air baku instalasi pengolahan air minum yang ada;
- Untuk Ibukota Kecamatan (IKK) yang berdekatan dengan wilayah-wilayah rawan air, dilakukan peningkatan atau pembangunan IPA sehingga menjadi suatu sentra produksi air minum;
- Meneruskan program air minum pada desa rawan air;
- Pengembangan teknologi tepat guna seperti penggunaan pompa tangan dalam (kedalaman 25-40 m) bagi daerah yang berpotensi memiliki air tanah sedang;

No comments:

Post a Comment

Please comment, and let's share
and exchange knowledge. But
still keep the decency to not
make comments & SPAM